Pages

Monday, January 4, 2016

Kuntum-kuntum Segar di Tajur





Ada yang lagi di Bogor? Jangan lupa mampir ke tempat ini, ya. Kuntum Farm Field namanya. Ini adalah salah satu tempat wisata peternakan dan kebun yang oke. Lokasinya di Tajur, nggak jauh dari jalan raya. Masih dekat dengan deretan toko-toko tas. Sudah lama dengar soal tempat yang satu ini. Tapi baru kesampaian sekarang jalan-jalannya. Alhamdulillaah.

Tiket masuk per orang Rp 30 ribu. Pas masuk, pengunjung dianjurkan memakai caping bambu yang sudah disediakan. Ini buat persiapan biar tidak terlalu kepanasan. Nggak pakai juga nggak apa-apa sih hehe. Tapi mending pakai, ya. Bogor memang terkenal sebagai Kota Hujan dan cenderung sering mendung. Tapi kalau lagi panas mah, tetap saja berasa panas dong. Jadi buat safety (ciee safety), pakai caping ajalah.

Nah, bagian pertama yang bisa dilihat adalah deretan kolam ikan. Ikannya banyak dan besar-besar. Airnya jernih jadi ikan-ikan yang berenang ke sana-sini keliatan jelas. Kalau mau kasih makan juga bisa. Eits, tapi beli dulu ya makanan ikannya. Belinya pas sebelum masuk ya. Kami kemaren jadi bolak-balik ke luar karena nggak tahu tempatnya.

Di sebelah kolam, ada deretan sayur organik. Kalau berminat, petik sendiri terus bayar di pintu depan. Next, ada aneka hewan peliharaan: sapi, kambing, kelinci, marmut. Anak-anak bisa memberi makan kelinci dan marmutnya, lho. Tapi, lagi-lagi, beli dulu ya. Harganya Rp 5.000, dapat wortel dan rumput. Kalau mau lebih seru, ajak si kecil memberi minuman susu untuk kambing dan sapi. Rp 5.000 untuk susu kambing dan Rp 10 ribu untuk susu sapi. Bau di sekitar kandang lumayan menyengat ya. Makanya kalo yang rada sensitif dengan bau prengus dan kawan-kawannya, pakai masker aja.

Yang seru lagi, ada kolam yang khusus untuk main-main air sambil menangkap ikan. Jadi, pengunjung diminta membeli ikan minimal 10 ekor ikan mas seharga Rp 50 ribu. Ikannya dimasukkan ke kolam terus sekeluarga bisa langsung nyebur ke kolam sambil rame-rame menangkap ikan pakai baskom plastik. Kalau ikannya nggak bisa-bisa ditangkap, tenang aja. Ntar tetap dikasih kok sebanyak yang sudah dibayar. Jadi, nangkap ikannya buat seru-seruan aja sudah cukup. Hiks, sayang kami nggak sempat nyobain. Terlalu sesak karena kolamnya dibikin kecil-kecil. Satu keluarga dengan dua anak saja udah bikin kolam penuh. Mau nungguin, entah kapan mereka keluar karena nggak ada batasan waktu. Anak-anak sempat sedih banget nggak jadi nyebur ke kolam. Syukur, ada gantinya: mancing mania.

Tenang deh, acara berenang nangkap ikan bisa diganti dengan acara mancing. Pancingan disewa dulu ya dan umpannya dibeli dulu. Kalau mau beli ikannya bisa. Atau kayak kami, cuma sewa pancingan dan beli umpan lalu memancing ala-ala aja. Kolamnya besar tapi kayaknya sesama pengunjung yang memancing di sekeliling kolam nggak ada yang dapat ikan hehehe...

Di bagian belakang, ada kebun aneka tanaman. Biasanya sih bisa dipetik juga, katanya. Tapi pas kami datang, sepertinya tanaman di kebun baru ditanam dan belum siap panen. Jadi di kebun buat jalan dan lari-lari aja. Udaranya seger banget. Pemandangannya indah. Nggak heran, tiap dua meter ada yang selfie hihu......

Terakhir, di bagian ujung bawah ada wahana naik kuda. Bayar lagi dong. Satu kali jalan Rp 30 ribu. Tapi jangan langsung beli tiket ya. Tanya sama yang jaga kudanya dulu nomor antrean yang lagi jalan. Kalau tidak, bisa terpaksa duduk-duduk ganteng dan lama deh kayak kami. Enaknya, tiket bisa dibalikin kalau keburu bete nunggunya.

Yeay, selesai deh... Ada musala dan tempat istirahat yang lapang, kok. Kalau lagi beruntung, ada petugas yang keliling menawarkan rambutan gratis hehe...
Oiya, ada beberapa tip nih kalau mau ke Kuntum
1. Datangnya pagi-pagi ya. Jam 8 pagi kalau bisa udah di sana. Biar jalan-jalannya tidak terlalu kepanasan. Soalnya area terbuka. Pengunjung belum banyak. Parkir masih bisa milih.
2. Siapkan uang tunai ya. Karena di dalam kayaknya belum atm. Padahal, sorry to say nih, kalau mau apa-apa, harus bayar tunai.
3. Bawa sabun cair. Ada beberapa titik untuk cuci kaki dan tangan. Tapi nggak ada sabun.
4. Aturannya nggak boleh makanan dan minuman dari luar. Jadi kalau bawa tas makanan dan minuman (ups ngajarin ngakalin hihi) yang udah dibeli di luar, secukupnya aja.
5. Bawa payung ya. Siap-siap bisa turun hujan setiap saat.
6. Pakai sepatu/sandal yang nyaman buat jalan-jalan di rumput dan tanah.
7. Baju ganti jangan lupa sekalian dibawa ke dalam area Kuntum biar nggak bolak-balik ke tempat parkir.
8. Awasi anak-anak karena ada beberapa tempat yang agak curam dan kolam yang agak dalam.

Okeoke... Selamat jalan-jalan, ya.

Thursday, May 28, 2015

BERDAMAI DENGAN DIRI





JUDUL BUKU: ULTIMATE HAPPINESS
PENULIS: LEE KRAVITZ
PENERBIT: KAIFA
TAHUN TERBIT: 2011

Saat menapaki kehidupan ini, biasanya kita akan berjalan lurus menghadap ke depan. Sesekali menoleh ke kiri, ke kanan, atau ke samping. Mungkin sekali waktu mendongak ke atas dan menunduk ke bawah. Namun, jangan lupakan. Sekali tempo, melihatlah ke belakang. Kadang di belakang sana ada cerita yang tertinggal lalu meninggalkan jejak yang tak mungkin dihapus. Cermati jejak itu. Siapa tahu ada sesuatu yang sangat berguna padanya.

Buku ini merupakan sepenggal kisah perjalanan seorang laki-laki memaknai hidupnya “lagi”, setelah cobaan besar menderanya. Setelah diberhentikan dari pekerjaannya, penulis yang bernama Lee Kravitz ini baru menyadari bahwa ada yang telah hilang dan jauh selama ini. dia merasa hampa karena ternyata selama ini banyak urusan “yang tertunda”, yang terlupakan. Dan sekarang, dia akan mencoba menuntaskan semuanya. Dia membuat semacam daftar orang dari masa lalunya, yang sempat dia lupakan selama puluhan tahun. Dalam daftar itu, ada anggota keluarga yang “terbuang”, sahabat baik saat sekolah, sahabat yang tidak terlalu dekat saat menjadi atlet, teman sekolah yang selalu melakukan bullying padanya, teman wanita saat sekolah, ayah dan paman yang terlibat “perang dingin” selama puluhan tahun, nenek yang sudah meninggal, dan seorang bocah Kenya yang pernah dijanjikan sesuatu.

Perjalanannya menemukan kembali orang-orang yang ternyata sangat mempengaruhi hidupnya ini benar-benar memperlihatkan proses perjuangan berdamai dengan apa yang telah terjadi. Masa lalu dengan semua orang yang ada di dalamnya sejatinya bukanlah beban. Merekalah yang secara langsung dan tidak langsung membuat kita yang seperti sekarang ini. Orang-orang baik yang memberi semangat dalam hidup kita adalah pihak yang membuat kita tumbuh optimis dan bersemangat. Orang-orang “jahat” yang pernah masuk ke dalam hidup kita adalah pihak yang membuat kita tumbuh kuat dan waspada. Masalah-masalah hidup yang menggayuti kita di masa lalu, bahkan sekarang, sejatinya adalah pembantu terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup. Jangan takut untuk menyibak masa lalu. Hadapi, lalu tuntaskan.

Membaca buku ini membuat pikiran saya melayang ke masa lalu saya sendiri, dengan segenap corak bahagia dan sedihnya. Saya pernah memiliki orang-orang baik yang selalu mendukung dan membantu saya. Tapi saya juga pernah “disakiti” oleh orang-orang yang bahkan kadang saya sudah lupa namanya. Di antara orang-orang itu, sangat sedikit yang masih berhubungan dengan saya saat ini. Intinya, sepertinya saya hanya ingin hidup dengan masa kini, bukan dengan masa lalu. Namun, sepertinya itu tidak mungkin. Saya sekarang adalah rentetan masa lalu dan terus bergulir.

Buku ini berhasil mendorong saya untuk mengingat-ingat lagi orang-orang “masa lalu” saya. Betapa perjalanan menemui orang dan menghadapi masa lalu akan mengantarkan pada kekayaan hati tak terkira. Bahasa kerennya, mungkin kita akan dilatih untuk lebih bijak.

“Melalui cobaan dan kesengsaraanlah, kita menemukan kekuatan dalam diri kita dan akan memberikan makna terhadap kehidupan kita.” (halaman 179)

Meski buku ini ditulis oleh seseorang yang keyakinannya berbeda, saya menemukan kalimat yang mirip dengan apa yang saya percayai selama ini.

“Peperangan yang paling penting bagi manusia adalah pertempuran di dalam diri kita sendiri.” (halaman 219)

Buku ini sangat bagus untuk menjadi bahan renungan. Dan buku ini sepertinya butuh perhatian yang agak lebih karena banyak kalimat panjang dan serius, yang kadangkala agak “membosankan”. Saya juga banyak menemukan kutipan ayat dari Alkitab, yang berbeda dengan keyakinan saya. But, hikmah itu berserakan di mana-mana, bukan? Tak salah jika mengambil kebaikan meski dari sumber yang bukan keyakinan kita, menurut saya pribadi. Tampilan fisik buku ini cukup bagus. Hanya, menurut saya, ilustrasi sampul depannya tidak menarik dan kurang menggugah. Tapi, sekali lagi, don’t judge the book by its cover. Lihat dan cermati isinya. Anda akan menemukan kebaikan terhampar di dalamnya. Just find it.

Depok, 28 Mei 2015

Wednesday, May 20, 2015

MENJEMPUT REZEKI



Judul buku: 13 Top Secrets Pembuka Pintu Rezeki
Pengarang: Reza M. Syarief
Penerbit: Qultum Media
Cetakan: Kedua, Juni 2012

Pertama kali mendengar judul buku ini, saya tersenyum sendiri. Menarik, soalnya. Kenapa? Pertama, angka 13 itu angka yang lazim dihindari orang dengan alasan yang saya sendiri tak paham. Berbagai julukan aneh disematkan pada angka ini. Saking antipati pada angka ini, ada pemilik gedung yang sengaja tidak membuat tombol angka 13 di lift dan menggantinya dengan 12a atau dari 12 langsung ke angka 14. Soal alasannya, jangan tanya saya. Saya tidak tahu. Tapi, untungnya, saya bukan salah satu dari mereka. Angka 13, selain bentuk angkanya, sama saja dengan angka lainnya. Terlebih, salah satu orang yang sangat saya sayangi di dunia ini lahir tepat pada angka itu. Kedua, frase pembuka pintu rezeki ini menjadi daya tarik sendiri, menurut saya. Karena, apa pun bahasan soal rezeki, sepertinya menarik dan sangat patut dibaca. Jadi, dari sisi judul saja, buku ini seolah menjanjikan asupan yang menarik.

Di lembaran awal buku ini, saya sempat terharu. Ada petikan Surat Ath-Thalaq ayat 2-3yang berbunyi: “ Barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka olehnya”. Kalimat ini berulang-ulang disampaikan oleh seseorang yang sangat saya cintai, Bapak saya. Entah sudah berapa kali. Dan saya selalu merasa “plong” mendengarnya.  Sungguh pembuka yang indah. Menyiratkan harapan yang harus terus dijaga tanpa jeda. Karena ada Yang Maha Pemberi Rezeki yang sudah menjanjikan kemudahan itu.

Tak usah berpikiran bahwa buku ini berat karena hanya berupa kumpulan kalimat tanpa gambar (kecuali foto penulis pada setiap bab hehe...). Bahasanya ringkas dan mudah dicerna. Kalimat-kalimatnya bisa langsung dimengerti karena langsung mengatakan apa yang harus disampaikan tanpa banyak perumpamaan. Kosakata bahasa asing pun langsung diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Seterusnya, bersiaplah disentil dengan kalimat-kalimat dari penulis.

Lihat saja! Pada rahasia kedua, Freedom atau kemerdekaan tanpa tapi, kita diingatkan pada gembok yang selama ini mengunci pikiran hingga tidak menarik rezeki untuk masuk ke dalam diri kita.

“Setidaknya ada tujuh batasan pikiran yang dapat mengganggu daya dorong kita. Bayangkan tujuh batasan pikiran itu bak gembok-gembok yang membuat pintu ruangan di dalam rumah kepribadian kita tidak bisa dibuka. Tugas kita sekarang adalah menghancurkan gembok yang mengunci tujuh pintu tersebut agar setiap potensi rezeki dapat masuk ke dalam rumah kepribadian kita.” (halaman 12)

Dan gembok itu adalah pikiran yang sehari-hari tumbuh subur dalam pikiran kita, terutama saya. Apa saja? I am so busy, I am not clever, I am not talented, I am not beautiful, I am not lucky, I am not rich, I am a common people. Lalu, sila tambahkan excuse lain yang selalu mengganggu kita. Bacalah buku ini dan sedikit demi sedikit gembok itu kita hancurkan. Ada lebih banyak alasan untuk berpikiran positif. Tinggal kita mau atau tidak untuk melakukannya. Kata-kata penulis benar-benar ditulis untuk membakar semangat kita. Apalagi pada tiap bab disajikan pengalaman penulis yang benar-benar pernah dia lalui. Jadi, semangat dalam tulisan beliau bukan tulisan khayalan yang hanya dikarang-karang.

Pada setiap bab (13 bab sesuai judul), kita akan menemukan kalimat-kalimat bernas. Perhatikan dan baca dengan tenang, jangan terburu-buru. Langkah-langkah yang terkait rezeki ini disampaikan secara jelas dan masuk akal. Tentu saja didukung dengan data-data ilmiah yang akan membantu membuka pikiran kita. Saya pikir, penulis berhasil mengajak pembaca berkomunikasi dengan baik. Hampir sama baiknya dengan saat kita mendengarkan langsung penulis berbicara di depan massa.

Sisi lain yang menarik dari buku ini adalah penataan tulisan yang tidak monoton. Walau hanya bercorak hitam-putih, buku ini tetap enak dilihat karena permainan bentuk font serta tebal-tipis huruf. Ditambah, ada banyak kotak-kotak khusus yang menyajikan kutipan kalimat-kalimat bijak dari penulis terkenal lainnya. Kutipan dari  Al-quran dan hadits pun tak sedikit.

Tak ada yang sempurna tentunya. Buku ini memiliki beberapa kekurangan dari segi fisik, menurut saya. Misal, buku ini sepertinya dibuat dari kertas daur ulang, yang dari sisi penampakan membuatnya kurang menarik dan sedikit berbau tak biasa (istilah saya untuk bau buku yang jarang dibuka). Dan, yang kedua ini memang subyektif sekali hehe..., terlalu banyak foto penulis dalam posisi close up. Mungkin akan lebih bagus jika foto penulis dibarengi background kegiatan yang pernah dilakukan atau ilustrasi keindahan alam. Namun, sekali lagi, sepertinya kekurangan ini tak begitu penting. Sama sekali tak mengurangi bobotnya sebagai salah satu referensi bermutu.

Jadi, bacalah buku ini hingga tuntas dan rasakan semangat yang terbarukan setelahnya. Ringkasnya, buku ini patut direkomendasikan sebagai salah satu asupan otak kita.