Posts

Temukan Titik Lemah Si Dia

Tanpa sengaja menyakiti pasangan (suami atau istri), lalu mengatakan: "Maaf, ya, sayang.....", itu sih sudah "biasa" mungkin. Tapi ada cara lain untuk meminta maaf, selain cara konvensional itu. Memanfaatkan titik lemah pasangan. Maksudnya, mencari-cari kelemahan si dia? Iya. Titik lemah yang saya maksudkan adalah hal-hal kecil yang disukai pasangan kita, yang bisa membuat dia bahagia sepanjang masa hehe.... Dan ini memerlukan pengamatan yang jeli dan proses uji coba berulang kali. Taktik minta maaf, yang sedikit berbau sogokan ini, lumayan efektif di antara kami. Saya, misalnya, punya dua titik lemah. Toko buku dan nasi bungkus Simpang Raya. Si dia sudah tahu soal ini dan sering memanfaatkannya. Dan, tanpa sadar, saya pun sering jadi bertekuk lutut. Pernah, suatu kali, dia harus pergi ke suatu acara kantor dan membatalkan acara bersama saya dan anak-anak. Saya kesal dan memilih diam, plus sedikit cemberut sebenarnya hehe.... Sesampainya di rumah, dia bicara kepad...

Sepotong Ikan Yang Membahagiakan

Ternyata, memang benar adanya bahwa bahagia itu tak selalu segaris lurus dengan sesuatu yang mahal, megah, besar, keren, atau sebutan berharga lainnya. Bahagia itu bisa datang karena sesuatu yang sederhana, kecil, murah, dan, mungkin, tidak keren. Dari sepotong ikan pun bisa berakhir bahagia. Ceritanya, ada seorang suami yang dapat jatah makan siang. Lauknya ada dua: ayam dan pepes ikan. Lauk pertama, dia habiskan. Lauk kedua dia bungkus lalu dibawa pulang. Katanya, dia ingat ada perempuan manis pecinta ikan sejati di rumahnya. Makanya sepotong ikan pepes itu dibawa pulang untuk dinikmati sang istri, si penyuka ikan. Dan, dengan berbinar bahagia, si istri menerima hadiah istimewa itu. Ah, cuma sepotong ikan yang dipepes. Ikan kembung lagi. Salah satu ikan yang murah meriah. Tapi ternyata bagi sang istri, ini bukan hanya soal ikan. Ini soal perhatian dan cinta. Manalah mungkin tanpa perhatian dan cinta, ikan itu akan sampai di rumah. Dan ini tidak terjadi sekali dua kali, berkali-kali...

Memupuk Cinta Kala Lelap

Ada rutinitas syahdu yang kujalani saat malam semakin larut. Memandangi lekat-lekat tubuh-tubuh mungil, yang terbaring lelah di tempat tidur. Seharian mereka sangat sibuk. Berlari, bermain, berteriak, berkelahi, belajar, menangis, tertawa, berguling-guling. Ah, banyak sekali yang mereka kerjakan. Kini tiba saatnya untuk merebahkan badan dan bermimpi. Dengan mulut yang kadang setengah terbuka, kadang mereka tersenyum dalam tidur. Kadang mengigau, lalu terbangun, lalu tidur lagi. Inilah saatnya aku berkesempatan untuk melihat sepuasnya keadaan mereka. Melihat baret bekas luka karena terbentur tembok atau jatuh saat lari di jalan. Melihat alis mata yang tebal dan rapi terlukis indah dekat mata. Memperhatikan, kalau bisa sekalian membersihkan, kotoran yang mengering di hidung dan telinga. Hehe.....ini dia yang tak bisa kulakukan saat mereka terbangun. Sulit sekali membujuk mereka untuk membersihkan telinga dan hidung. Dengan berbagai alasan, mereka akan menolak telinga dan hidungnya disen...

Nyamannya Salat di Kota Kasablanka

Setiap ada keperluan di tempat umum di kota tercinta ini, selalu ada masalah untuk menemukan kamar kecil yang bersih, tempat menyusui, dan tempat parkir. Apalagi di tempat umum bernama mal atau pusat belanja, pas weekend pula. Dan yang paling menyedihkan, menurut saya, adalah sulitnya menemukan tempat salat yang bersih dan nyaman. Yang umum disediakan mal adalah "musala" ukuran 4×5 meter, di bagian pojok paling belakang bangunan mal, dengan sekat pembatas ala kadarnya. Mukena dan perlengkapan seadanya. Tempat berwudhu seadanya. Pokoknya serbaminimalis. Belakangan, memang ada beberapa mal yang mulai memperhatikan soal tempat menunaikan ibadah ini. Ukuran musalanya agak besar, meski masih berada di pojok yang paling belakang. Atau ada yang menyediakan tempat salat terbuka yang cukup luas, tapi bersebelahan langsung dengan parkir sepeda motor. Kebayang kan betapa berisik dan hebatnya polusi yang harus ditanggung saat salat. Aduh..... Tapi, saya menemukan kesyahduan, yang sanga...

Belajar tanpa Anak

Baru saja, saya tercenung melihat iklan sebuah acara seminar parenting. Temanya bagus dan sangat pas dengan perkembangan terkini, tentang anak dan gadget. Tapi ada satu kalimat di bagian bawah yang membuat saya menarik nafas karena kecewa. "Tidak diperkenankan membawa anak". Sebuah persyaratan yang sungguh tak bisa dipenuhi oleh seorang ibu seperti saya, ibu dengan tiga balita. Artinya, mungkin seminar ini hanya ditujukan bagi orang tua yang: pertama, tidak punya anak; kedua, orang tua yang punya anak tapi bisa menitipkan anaknya kepada asisten atau nenek-kakek; ketiga, ibu yang tidak punya bayi yang harus menyusui atau yang menyusui tapi bisa memompa asi untuk si anak. Intinya lagi, seminar ini bisa diikuti oleh orang tua yang "tanpa anak". Sebesar apa pun ingin saya untuk belajar lewat seminar ini, saya takkan bisa memenuhi persyaratan itu. Kalau mau ikut, ya saya harus memikirkan cara untuk "mengesampingkan" anak-anak saya dulu. Teringat tentang cerit...

Rapor Ceria Sang Juara

Image
Seru... Hari ini sulungku menerima laporan hasil belajarnya di sekolah. Tapi suasana yang terasa beda sekali dengan waktu diriku menerima rapor dulu. Waktu sekolah dulu, hari penerimaan rapor adalah hari yang sangat mendebarkan. Bagaimanakan nilaiku? Adakah nilai merahnya? Dapat rangking berapa ya? Kalau nilaiku turun, betapa malu sama orang tua dan teman. Begitulah. Tapi semuanya sungguh berbeda hari ini, saat hari penerimaan rapor anakku di TK. Yang terlihat jelas adalah keceriaan. Semua tersenyum tanpa beban. Acara penerimaan rapor diawali dengan pentas seni. Sulungku ikut berpartisipasi dalam drama musikal "Pasukan Bergajah". Tema ini terkait dengan salah satu hafalan surat yang dipelajarinya di sekolah, yakni surah Al-Fiil. Senangnya, melihat anak-anak yang riang menjadi Raja Abrahah, gajah, dan burung ababil. Lugu dan lucu. Apalagi, soundtrack drama musikal itu adalah lagu favorit si Abang, yang dinyanyikan lebih dari 20 kali sehari selama berbulan-bulan. Saat anak-a...

Aku, Lada, dan Cemburu

Perlukah ada cemburu dalam sebuah pernikahan? Sepertinya perlu, menurut saya. Dalam takaran yang pas pastinya. Seumpama peran lada dalam masakan (di luar kue dan puding ato es campur serta teman-temannya). Tidak wajib memang ada lada. Tapi kalau masakan dibubuhi lada, rasanya akan lebih segar. Sensasinya bisa beda. Sedikit saja, tak perlu berlebihan. Kalau berlebihan, malah bisa mengundang penyakit. Begitu pula cemburu, lagi-lagi ini menurut saya. Sedikit cemburu sepertinya bisa membuat hubungan terasa lebih hangat. Kenapa begitu? Ya, saya pikir, pada saat cemburu muncul, secara tak langsung ada perasaan yang dirasakan, tapi mungkin tak terucap. Seperti, aku sayang sama kamu. Kamu itu istri/suamiku yang sah. Aku tak mau kamu berpaling pada yang lain, meski sejenak. Kamu sangat berharga bagiku. Kamu adalah milikku yang cantik/tampan, yang tidak boleh digoda oleh yang lain. Dan seterusnya. Gombal, ya? Tapi senang kan ya, merasa dicemburui karena dicintai? Coba, kalau cemburu nol perse...