Setelah "bertapa" cukup lama, akhirnya semangat itu keluar lagi. Terima kasih untuk semua orang dan semua benda yang telah membuat Bunda bangkit. Bismillah...
Barayo di Kampuang Kito Akhirnya, dengan kasih sayang Allah, kami bisa berkumpul di rumah Ibu. Sebutan rumah Ibu lazim disematkan untuk menyebut rumah orang tua. Meski pemiliknya adalah Bapak dan Ibu, tetap saja lebih sering disebut di rumah Ibu. Mungkinkah karena matriakat sekali orang kampung kami? πππ Bertemu nenek dan atuknya anak-anak sungguh karunia tak terkira. Mencium tangan mereka, memeluk tubuh mereka, melihat langsung senyum kebahagian mereka, mendengar cerewetnya mereka, menikmati naik-turun mood merekaπππ. Ditambah si bungsu sholehah yang selalu setia menemani orang tua kami. Semoga Allah selalu merahmati hidupmu, Adiak Uni sayang❤️. Plus keluarga Adek dari Palembang. Belum lengkap sebenarnya. Masih menunggu adek yang masih di Pekanbaru yang baru akan pulang setelah sholat Ied. Setelah sekian lama, kembali menikmati berbuka puasa di kampuang halaman. Senangnya tak terkira. Buka puasa pertama Ramadhan tahun ini di rumah Amak (nenek kami aka ayeknya anak-anak). Ku...
Suatu kali sepulang sekolah... Aku melihat sebuah mainan di dalam tas si sulung. Seperti sebuah ujung stetoskop mainan. Tapi, seingatku, mainan tersebut belum pernah kulihat sebelumnya. Ini berarti, mainan itu bisa jadi bukan milik anakku. Ya, sudah. Nanti saja kutanyakan. Sore hari... Si Abang memamerkan mainan yang tadi kulihat di tasnya. Abang: "Tadi Abang beli mainan ini pake uang warna ungu, yang Bunda kasih tadi." Maksudnya, uang Rp 10 ribu. Bunda: "Lho, kan uangnya untuk ditabung di sekolah, Bang?" Abang: "Iya, tapi Abang beli ini." Bunda: "Berarti tadi Abang ga nabung, ya? Kok, di buku tabungannya ada ditulis nabung?" Abang: (Mulai kebingungan, terus diam) Bunda: "Mainannya beli di mana?" (Aku tahu pasti di sekolahnya tidak ada penjual apa pun, termasuk penjual mainan) Aku tersenyum melihat sulungku bingung. Mungkin sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya, Abang: "Tadi Abang lagi maen balok-balokan di seko...
Suatu siang di sebuah pusat perbelanjaan di Kemang. Ada pameran mainan Iron Man. Anak-anak berlarian di antara mainan dan replika robot yang sedang booming itu. Tiba-tiba, anakku mengambil sesuatu. Abang: Bun, mau beli ini Bunda: Apa itu, Bang? Abang: Pesawat (Kuperhatikan lebih dekat mainan itu. Pesawat kecil dari bahan plastik. Harganya, 250 ribu.) Bunda: Nggak usah ya, Bang. Harganya mahal banget. Mending uangnya buat yang lain. Abang: Nggak. Maunya ini. Lalu terjadilah peristiwa yang dramatis hehe....Si abang tetap memegang mainannya. Sama sekali tak mau melepaskannya. Aku berusaha meminta dengan cara baik-baik. Pegangannya semakin kencang. Kukeluarkan segala argumentasi yang kuharap bisa menyentuhnya. Dia tetap keukeh. Akhirnya kukeluarkan kalimat penutup: "Bunda nggak mau beliin mainan itu. Harganya mahal. Dan bunda nggak mau beli mainan mahal. Mending kita beli buku aja ya. Sekarang kita makan dulu." Sambil tanganku mengambil mainan itu dari tangannya dengan c...
Comments